Senin, 30 April 2012

mengapa manusia harus hidup....?


Suatu hal yang menjadi asas dalam ajaran Islam, yaitu mengapa manusia hidup. Merupakan satu pertanyaan yang memerlukan satu jawaban yang tepan. Karena jika manusia yang hidup di muka bumi Tuhan ini tidak dapat memberi jawaban yang betul, manusia itu tak pandai hidup. Mereka sekedar pandai maju, pandai berkebudayaan tapi tak pandai hidup. Jika manusia gagal hidup di dunia, maka manusia akan gagal hidup di akhirat.
Karena itu bagaimana kita memperoleh jawaban yang tepat ? Ada orang mengatakan, kita tanya saja pendapat akal. Kalau kita lihat pertanyaan itu mudah tapi jawabannya berat. Bukan saja akal tidak mampu memberikan jawaban yang tepat. Bahkan bila beberapa orang memberikan jawaban menurut akal masing-masing, maka akan timbul perbedaan pendapat. Jadi kalau kita bertanya pada akal, maka akal tidak mampu, karena akal kedudukannya lemah, tidak semua dapat difikirkan terutama yang berkait dengan hal-hal yang ghaib, hari akhirat, syurga neraka dll, walaupun manusia itu mempunyai akal yang pintar sekalipun.
Kita sebagai orang Islam memiliki panduan hidup yang diberikan Allah kepada kita, yaitu yang terdapat di dalam Al Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Jadi supaya kita tidak meraba-raba, supaya tidak letih akal kita berfikir, supaya kita tidak mencari-cari, lebih baik kita bersandar dengan apa yang telah Allah beri kepada kita. Itulah jawaban yang tepat menurut Al Quran yang patut menjadi pegangan kita, yang menjadi keyakinan kita, serta amalan perjuangan kita, supaya kita mendapat keselamatan.
Dalam Al Quran disebutkan sesungguhnya yang benar itu datang dari Allah (An Nisaa' 170 ). Sebab itu kita terima sajalah jawaban dari Allah. Semoga dengan begitu kita dapat keselamatan di dunia dan akhirat.
Allah telah memberikan jawaban kepada kita,
surat:51 ayat:56
surat:51 ayat:56
"Sesungguhnya tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah (beribadah) kepadaKu" (Adz Dzaariyaat : 56)
Dengan ayat Al Quran tersebut yang merupakan wahyu yang diturunkan kepada Rasul untuk umat yang paling akhir, disebutkan kita diciptakan oleh Allah adalah untuk beribadah, ataupun untuk mengabdikan kepada Allah, dengan kata lain untuk tunduk dan patuh pada perintah Allah.
Dengan ayat tersebut, maka dalilnya kuat, hujjahnya pun kuat. Tapi yang sebenarnya kalau kita bahas secara akal, secara mantiq atau secara psikologi, maka akal kita pun mengakui patut manusia menyembah Allah. Akal menyatakan setuju, bahkan hati kecil juga ikut setuju untuk menyembah Allah.
Secara akal, secara perasaan, secara mudah, dapat dibuktikan bahwa akal setuju dan hati pun setuju manusia menyembah Allah, selain dalil yang kuat dari Al Quran. Contohnya, bagaimana kalau ada orang yang memanggil kita, saudara adalah hamba Allah. Bagaimana perasaan kita, bagaimana rasa hati kita kalau orang panggil kita hamba Allah. Akal mau menerima, hati kecil juga turut setuju, walaupun pada pelaksanaannya kita tidak pernah menyembah Allah. Walaupun kita tidak pernah membesarkan Allah, tak pernah patuh, tapi hati kita terhibur dengan sebutan hamba Allah.
Mengapa akal setuju, dan hati kecil dapat menerima, sebab karena Allah jadikan kita memang untuk menjadi hambaNya. Jadi apa yang disetujui oleh Allah, disetujui oleh akal dan hati. Sebaliknya apa yang disetujui oleh akal dan hati, disetujui oleh Allah.
Tapi bagaimana kalau suatu ketika, orang memanggil kita, saudara adalah hamba mobil, hamba wanita, hamba rumah, hamba nafsu. Bagaimana pendapat akal kita, bagaimana rasa hati kita. Akal kita tak setuju, bahkan hati tak setuju. Bukan hanya tak setuju, tapi hati pun rasa sakit. Kalau orang tuduh kita hamba selain Allah, kalau selama ini sudah sakit, bahkan mungkin dapat meninggal dengan seketika.
Mengapa ? kal tidak setuju, hati tak setuju, karena Allah tidak setuju apa yang tidak disetujui oleh akal dan hati. Dan sebaliknya apa yang tidak disetujui oleh akal dan hati, tidak disetujui oleh Allah.
Karena itu mau tidak mau, kita mesti menyembah Allah karena Allah bersetuju, akal bersetuju dan hati bersetuju. Jadi kalau manusia tidak mau menyembah Allah, tidak mau mengabdikan diri pada Allah, tidak mau tunduk dan patuh pada Allah, dia bukan saja menentang Allah, bahkan menentang akal dan hatinya, hakikatnya orang itu menentang dirinya sendiri. Kalau orang itu menentang dirinya sendiri, dia tidak akan dapat kebahagiaan, walaupun pangkatnya tinggi, rumahnya besar, jabatannya tinggi dan hartanya banyak.
Buktinya banyak. Kita lihat hari ini bangsa-bangsa yang dikagumi karena banyak kemajuan di bidang ekonomi, membangun, banyak orang terkenal, tapi sebagian besar penduduknya mati bunuh diri, ada yang 50 %, 60 %, bahkan 75 %. Mereka sudah kehilangan kebahagiaan. Kebanyakan mereka orang yang terkenal tapi hidupnya frustrasi.
Mengapa terjadi demikian ? Karena mereka sama sekali tak mengenal Allah, tidak mau menyembah Allah. Mereka menentang dirinya sendiri sehingga tak dapat kebahagiaan. Karena itu kita mesti mengenal dan menyembah Allah, untuk selamat di dunia dan akhirat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar