mengapa manusia harus hidup....?
Suatu hal yang menjadi asas dalam ajaran Islam, yaitu mengapa
manusia hidup. Merupakan satu pertanyaan yang memerlukan satu
jawaban yang tepan. Karena jika manusia yang hidup di muka bumi
Tuhan ini tidak dapat memberi jawaban yang betul, manusia itu tak
pandai hidup. Mereka sekedar pandai maju, pandai berkebudayaan tapi
tak pandai hidup. Jika manusia gagal hidup di dunia, maka manusia
akan gagal hidup di akhirat.
Karena itu bagaimana kita memperoleh jawaban yang tepat ? Ada
orang mengatakan, kita tanya saja pendapat akal. Kalau kita lihat
pertanyaan itu mudah tapi jawabannya berat. Bukan saja akal tidak
mampu memberikan jawaban yang tepat. Bahkan bila beberapa orang
memberikan jawaban menurut akal masing-masing, maka akan timbul
perbedaan pendapat. Jadi kalau kita bertanya pada akal, maka akal
tidak mampu, karena akal kedudukannya lemah, tidak semua dapat
difikirkan terutama yang berkait dengan hal-hal yang ghaib, hari
akhirat, syurga neraka dll, walaupun manusia itu mempunyai akal
yang pintar sekalipun.
Kita sebagai orang Islam memiliki panduan hidup yang diberikan
Allah kepada kita, yaitu yang terdapat di dalam Al Quran dan sunnah
Rasulullah SAW. Jadi supaya kita tidak meraba-raba, supaya tidak
letih akal kita berfikir, supaya kita tidak mencari-cari, lebih
baik kita bersandar dengan apa yang telah Allah beri kepada kita.
Itulah jawaban yang tepat menurut Al Quran yang patut menjadi
pegangan kita, yang menjadi keyakinan kita, serta amalan perjuangan
kita, supaya kita mendapat keselamatan.
Dalam Al Quran disebutkan sesungguhnya yang benar itu datang
dari Allah (An Nisaa' 170 ). Sebab itu kita terima sajalah jawaban
dari Allah. Semoga dengan begitu kita dapat keselamatan di dunia
dan akhirat.
Allah telah memberikan jawaban kepada kita,
![]()
"Sesungguhnya tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah (beribadah) kepadaKu" (Adz Dzaariyaat : 56)
Dengan ayat Al Quran tersebut yang merupakan wahyu yang
diturunkan kepada Rasul untuk umat yang paling akhir, disebutkan
kita diciptakan oleh Allah adalah untuk beribadah, ataupun untuk
mengabdikan kepada Allah, dengan kata lain untuk tunduk dan patuh
pada perintah Allah.
Dengan ayat tersebut, maka dalilnya kuat, hujjahnya pun kuat.
Tapi yang sebenarnya kalau kita bahas secara akal, secara mantiq
atau secara psikologi, maka akal kita pun mengakui patut manusia
menyembah Allah. Akal menyatakan setuju, bahkan hati kecil juga
ikut setuju untuk menyembah Allah.
Secara akal, secara perasaan, secara mudah, dapat dibuktikan
bahwa akal setuju dan hati pun setuju manusia menyembah Allah,
selain dalil yang kuat dari Al Quran. Contohnya, bagaimana kalau
ada orang yang memanggil kita, saudara adalah hamba Allah.
Bagaimana perasaan kita, bagaimana rasa hati kita kalau orang
panggil kita hamba Allah. Akal mau menerima, hati kecil juga turut
setuju, walaupun pada pelaksanaannya kita tidak pernah menyembah
Allah. Walaupun kita tidak pernah membesarkan Allah, tak pernah
patuh, tapi hati kita terhibur dengan sebutan hamba Allah.
Mengapa akal setuju, dan hati kecil dapat menerima, sebab karena
Allah jadikan kita memang untuk menjadi hambaNya. Jadi apa yang
disetujui oleh Allah, disetujui oleh akal dan hati. Sebaliknya apa
yang disetujui oleh akal dan hati, disetujui oleh Allah.
Tapi bagaimana kalau suatu ketika, orang memanggil kita, saudara
adalah hamba mobil, hamba wanita, hamba rumah, hamba nafsu.
Bagaimana pendapat akal kita, bagaimana rasa hati kita. Akal kita
tak setuju, bahkan hati tak setuju. Bukan hanya tak setuju, tapi
hati pun rasa sakit. Kalau orang tuduh kita hamba selain Allah,
kalau selama ini sudah sakit, bahkan mungkin dapat meninggal dengan
seketika.
Mengapa ? kal tidak setuju, hati tak setuju, karena Allah tidak
setuju apa yang tidak disetujui oleh akal dan hati. Dan sebaliknya
apa yang tidak disetujui oleh akal dan hati, tidak disetujui oleh
Allah.
Karena itu mau tidak mau, kita mesti menyembah Allah karena
Allah bersetuju, akal bersetuju dan hati bersetuju. Jadi kalau
manusia tidak mau menyembah Allah, tidak mau mengabdikan diri pada
Allah, tidak mau tunduk dan patuh pada Allah, dia bukan saja
menentang Allah, bahkan menentang akal dan hatinya, hakikatnya
orang itu menentang dirinya sendiri. Kalau orang itu menentang
dirinya sendiri, dia tidak akan dapat kebahagiaan, walaupun
pangkatnya tinggi, rumahnya besar, jabatannya tinggi dan hartanya
banyak.
Buktinya banyak. Kita lihat hari ini bangsa-bangsa yang dikagumi
karena banyak kemajuan di bidang ekonomi, membangun, banyak orang
terkenal, tapi sebagian besar penduduknya mati bunuh diri, ada yang
50 %, 60 %, bahkan 75 %. Mereka sudah kehilangan kebahagiaan.
Kebanyakan mereka orang yang terkenal tapi hidupnya frustrasi.
Mengapa terjadi demikian ? Karena mereka sama sekali tak
mengenal Allah, tidak mau menyembah Allah. Mereka menentang dirinya
sendiri sehingga tak dapat kebahagiaan. Karena itu kita mesti
mengenal dan menyembah Allah, untuk selamat di dunia dan
akhirat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar